B. KONSEP PEMBELAJARAN
1. Makna Pembelajaran
Istilah Pembelajaran merupakan istilah baru yang digunakan untuk menunjukan
kegiatan guru dan siswa. Sebelumnya, kita menggunakan istilah proses belajar
mengajar dan Pengajaran”. Istilah pembelajaran merupakan terjemahan dari kata
instruction”. Kondisi saat ini telah banyak orang memilih istilah Pembelajaran
karena mengacu pada segala kegiatan yang berpengaruh langsung terhadap proses
belajar, sedangkan Pengjaran hanya pada konteks tatap muka guru-siswa di dalam
kelas. Menurut Gagne, Briggs, dan vager (1992), pembelajaran adalah serangkaian
kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada
siswa. Dalam kamus Bahasa Indonesia Pembelajaran menekankan pada proses, cara,
perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sedangkan menurut
Winartapura “Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi
dan memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri
peserta didik. Lebih lanjut ia ungkapkan bahwa pembelajaran merupakan upaya
sistematis dan sistemik untuk menginisiasi, memfasilitasi dan meningkatkan
proses belajar.
Pembelajaran dalam konteks pendidikan formal terumuskan dalam Undang-Undang No.
20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional bahwa Pembelajaran adalah proses
interaksi antara Guru dan Peserta Didik dengan Sumber Belajar pada suatu
Lingkungan Belajar.
Dalam konsep tersebut terkandung
lima unsur
utama yakni, kata Interaksi yang mengandung arti “Pengaruh Timbal Balik; Saling
Mempengaruhi Satu Sama Lain. “Peserta Didik” sebagai anggota masyarakat yang
berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia
pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu. “Pendidik” adalah tenaga
kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,
widyaswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lain sesuai
kekhususannya, serta berpartisipasi aktif dalam menyelenggarakan pendidikan. “
Sumber Belajar” segalah sesuatu yang dapat digunakan oleh peserta didik
dan pendidik dalam proses belajar dan pembelajaran, berupa sumber belajara
tertulis/cetakan, terekam, tersiar, jaringan, dan lingkungan (alam sosial,
budaya dan spritual). “Lingkungan Belajar adalah lingkungan yang menjadi latar
terjadinya proses belajar seperti di kelas, perpustakaan, sekolah, tempat
kursus, warnet, keluarga, masyarakat dan alam semesta.
Dari pengertian pembelajaran tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa
Pembelajaran adalah proses atau kegiatan yang dirancang dengan sengaja oleh
guru untuk terjadinya interaksi yang menyenangkan dalam proses belajar melalui
interigritas dan optimalisasi sumber daya yang sistemik (materi, metode, media,
kegiatan dan evaluasi ) sehingga peserta didik lebih paham dan aktif dalan
meningkatkan cara, gairah dan hasil belajarnya. Karena itu pembelajaran
harus menghasilkan belajar meskipun tidak semua proses belajar terjadi karena
pembelajaran. Proses belajar terjadi juga dalam konteks interaksi
sosial-kultural dalam lingkungan masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas, kita dapat mengetahui ada beberapa ciri-ciri dalam
pembelajaran :
- Inisiasi, Fasilitasi, dan peningkatan proses belajar
- Adanya interaksi yang sengaja diprogram
- Adanya Kompenen yang Saling berkaitan (Tujuan, materi, kegiatan dan evaluasi)
- Adanya Intensistas dan Peningkatan Hasil Belajar
2. Perspektif Pembelajaran
Menurut hemat saya bahwa awalnya kita manusia tidak menyadari memiliki potensi
yang sangat besar dan berharga bagi diri, masyarakat dan lingkungannya. Tentu
potensi tersebut tidak akan keluar tanpa adanya penggu
Andrias Harefa mengungkapkan
bahwa proses pembelajaran bergerak di antara empat matra yang dilalui tiga
perspektif.
Pada tahap pertama, kita
bergerak dari matra ketidaksadaran atas ketidakmampuan diri
(unconscious-incompetent) menuju matra kesadaran atas ketidakmampuandiri
(conscious-incompetent). Kita harus mengalami proses penyadaran dari dalam diri
kita sendiri, tidak bisa dan memang tidak mungkin dipaksakan dari luar, dari
siapa atau apa saja yang bukan diri kita. Proses ini saya namakan pencerahan
atau penyadaran (enlightening /awakening). Pertanda tumbuhnya kesadaran atas
ketidakmampuan diri ini adalah munculnya cara pandang yang sama sekali baru
(paradigm repetance atau a shift of mind) dalam memahami realitas kehidupan
sehari-hari. Ini berarti mulai berfungsinya mata bathin dan hati nurani kita
(eye of spirit and conscience). Proses ini memerlukan pendekatan dialog yang
jujur dan refklesi diri.
Tahap kedua, kita bergerak dari
matra kesadaran atas ketidakmampuan diri menunju matra kesadaran atas kemampuan
diri . pergerakan atau proses ini saya namakan pembelajaran. Jadi kita
dimungkinkan belajar dalam arti sesungguhnya, kalau sudah sadar atas
ketodakmampuan kita. Jika kita masih belum sadar atas ketidakmampuan kita, maka
kita tidak mau belajar. Perta dimulainya proses pembelajaran pada tahap ini
adalah kesediaan menderita, disiplin, dan komitmen untuk tekun mengerjakan
sesuatu hal. Ini berarti mulai diasahnya mata budi kita. Proses ini memerlukan
pendekatan berbagi tukar yakni berbagi pengetahuan, bertukar ide, dan berbagi
keterampilan.
Tahap ketiga, kita dimungkinkan
untuk bergerak lagi dari matra kesadaran atas ketidakmampuan diri menuju matra
ketidaksadaran atas kemampuan diri. Pergerakan atau proses ini saya namakan
pembiasaan. Inilah tahap profesional sejati (true profesional) seseorang hanya
dapat disebut profesional jika mampu mengerjakan sesuatu dengan kualitas
tinggi tanpa sadar bahwa untuk dapat bekerja dengan cara yang demikian
diperlukan kemampuan yang luar biasa. Proses ini memerlukan pendekatan acting
atau doing.
Disamping, matriks pembelajaran
tersebut di atas, ada juga ahli lain yang mengungkapkan konsepnya tentang
Pembelajaran. Diantaranya Dave Meier dalam bukun The Accelerated Learning, ia
mengungkapkan bahwa seluruh kegiatan belajar manusia berjalan melalui siklus
Pembelajaran empat tahap, yakni:
1.PersiapanTimbulnya Minat
2.Penyampaian(Perjumpaan Pertama
dengan Pengetahuan dan atau keterampilan Baru)
3.Pelatihan(Integrasi
Pengetahuan atau Keterampilan Baru.
4.PenampilanHasil(Penerapan
Pengetahuan dan Keterampilan baru pada situasi dunia-nyata)
Jika keempat siklus tersebut ada
dalam satu kesatuan bentuk, maka proses pembelajaran yang sebenarnya akan
berlangsung.
BAB II PEMBAHASANKONSEP
PEMBELAJARAN
2.1.Hakikat Belajar
Belajar, pada hakekatnya
adalah proses interaksi terhadap semuasituasi yang ada di sekitar individu.
Belajar dapat dipandang sebagaiproses yang diarahkan
kepada tujuan dan proses berbuat melaluiberbagai pengalaman. Belajar juga merupakan
proses melihat,mengamati, dan memahami sesuatu (Sudjana, 1989:29). Sejalandengan konsep di atas Cronbach (Surya, 1979:28)
menyatakan“
Learning may
be defined as the process by which a relatively enduring change in behavior occurs as result of experience or practice
”. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa indikator belajarditujukan dengan perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil
daripengalaman.
Sedangkan Witherington (1952)
menyebutkan bahwa“Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yangdimanifestasikan sebagai suatu pola-pola respon
yang berupaketerampilan,
sikap, kebiasaan, kecakapan, atau pemahaman”.Dari beberapa kutipan
di atas dapat disimpulkan beberapa hal yangmenyangkut pengertian belajar
sebagai berikut :a.Belajar merupakan suatu proses, yaitu kegiatan yangberkesinambungan yang dimulai sejak lahir dan terusberlangsung
seumur hidup.b.Dalam belajar
terjadi adanya perubahan tingkah laku yangbersifat relatif permanen.c.Hasil belajar ditujukan dengan aktivitas-aktivitas
tingkah lakusecara keseluruhan.
tinggi; f) strategi kognitif; g) informasi
verbal; h) sikap;
dan i)keterampilan motorik.
2.2.Landasan Konsep Pembelajaran
a.FilsafatProses
belajar pada dasarnya melibatkan upaya
yang hakikidalam
membentuk dan menyempurnakan kepribadian manusiadengan berbagai tuntutan dalam kehidupannya. Secara filosofisbelajar
berarti mengingatkan kembali
pada manusia
mengenaimakna hidup yang bisa dilalui melalui proses meniru,
memahami,mengamati, merasakan, mengkaji, melakukan, dan meyakini akansegala
sesuatu kebenaran sehingga semuanya memberikankemudahan dalam mencapai segala yang dicita-citakan manusia.Belajar diperlukan oleh individu manusia akan tetapi
belajar jugaharus dipahami
sebagai sesuatu kegiatan dalam mencari danmembuktikan kebenaran. Harapan para filosofis bahwa denganbelajar
maka segala kebenaran di alam
semesta ini ada
yangmenciptakan. Dengan demikian
filsafat apapun yang telah menjadihasil pikir manusia maka
kaitannya dengan belajar ibarat
siklusbahwa
dengan filsafat manusia bisa mempelajari (belajar) tentangsegala
sesuatu, dan sebaliknya dengan aktivitas belajar
makapemikiran-pemikiran tentang belajar terus berkembang dan banyakditemukan
sehingga membawa pada warna inovasi ide
danpemikiran manusia sepanjang
zaman.b.PsikologisPerilaku manusia bisa berubah karena belajar, akan
tetapi apakahmanusia itu memahami perilakunya sendiri, atau menyadari
diaharus berperilaku seperti apa
jika berada, atau dihadapkan dalamsituasi dan kondisi yang berbeda. Maka
perilaku yang masih dicariinilah dapat dikaitkan dengan kajian dari ilmu
psikologi. Psikologisebagai ilmu yang mempelajari gejala kejiwaan yang akhirnyamempelajari produk dari gejala kejiwaan ini dalam
bentuk perilaku-perilaku yang nampak dan sangat dibutuhkan dalam proses belajar.
Bloom yakin bahwa variable kualitas pengajaran
yang tercermindalam penyajian bahan petunjuk latihan
(tes formatif), prosesbalikan dan perbaikan penguatan partisipasi siswa harus sesuaidengan kebutuhan siswa (Bloom, 1976:11 dalam
Max Darsono,1989:88).
Secara umum, hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktorinternal, yaitu
faktor-faktor yang ada dalam diri siswa dan faktoreksternal yaitu faktor-faktor
yang berada di luar diri pelajar. Yangtergolong faktor internal adalah :1)Faktor
fisiologis atau jasmani individu baik
bersifat bawaanmaupun yang diperoleh dengan melihat, mendengar,
strukturtubuh, cacat tubuh, dan sebagainya.2)Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupunketurunan,
yang meliputi :a)Faktor
intelektual terdiri atas :
•
Faktor potensial, yaitu
intelegensi dan bakat.
•
Faktor aktual, yaitu
kecakapan nyata dan presentasi.b)Faktor nonintelektual, yaitu komponen-komponenkepribadian
tertentu seperti sikap, minat, kebiasaan,motivasi, kebutuhan, konsep diri, penyesuaian diri,emosional, dan sebagainya.3)Faktor kematangan baik fisik maupun psikis.Sedangkan yang tergolong ke dalam faktor eksternal
ialah :1)Faktor sosial yang terdiri
atas :
•
Faktor lingkungan keluarga
•
Faktor lingkungan sekolah
•
Faktor lingkungan masyarakat
•
Faktor kelompok2)Faktor budaya seperti :
adt istiadat, ilmupengetahuan dan teknologi, kesenian,
dansebagainya.3)Faktor lingkungan fisik,
seperti fasilitas rumah,fasilitas belajar, iklim dan sebagainya.
4)Faktor spiritual atau lingkungan keagamaan.Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi secara
langsung atau tidaklangsung dalam mempengaruhi hasil belajar
yang dicapaiseseorang. Karena adanya faktor-faktor tertentu yangmempengaruhi prestasi belajar
yaitu motivasi
berprestasi,inteligensi
dan kecemasan.b.Motivasi Menuju
Hasil Proses PembelajaranPengaruh
motivasi di sini adalah motivasi
baik intern maupunekstern terhadap hasil belajar yang dimaksud, menurut Hilgard,motif
merupakan tenaga penggerak yang mempengaruhi kesiapanuntuk memulai melakukan
rangkaian kegiatan dalam suatu perilaku(I.L Pasaribu, 1988:46). Sedangkan
McClelland (1953) yang dikutipoleh Max Darsono (1989:99) menyataan bahwa motif
adalah suatu“
energizer
” (sumber tenaga,
penggerak) suatu konsep yangdiperlukan
untuk menjalankan aktivitas organism. Motif umumnyadipandang suatu disposisi
pribadi artinya bersifat potensial. Dalamhal ini Wrightman (1975:281)
menjelaskan :
“Motive as an energizing
condition of the organism that serves todirect that organism, usually toward a
goal of goals or a certainclass and motive is sometimes used interchangeably
with the term‘need’ and
‘drive’.”
Pada pernyataan tersebut di
atas motif merupakan suatu sumbertenaga dalam kondisi tertentu yang bisanya dimiliki
oleh setiapindividu secara langsung, dan motif ini biasanya
memberikan arahuntuk memilih
kesiapan tindakan yang akan dilakukan yangdisesuaikan
dengan kebutuhan dan arahan. Menurut jenisnya, motif dibedakan menjadi
motif primer dan sekunder, yang dikutip olehSyamsudin (1990), yang dikutip oleh
Subhana, membedakan motif sebagai berikut :1)Motif primer (
primary motive
) atau motif dasar (
basicmotive
) menunjukkan kepada motif yang tidakdipelajari
(
unlearned motive
) yang sering jugadigunakan
istilah dorongan (
drive
).
2)Motif sekunder (
secondary
motive
) menunjukkankepada
motif yang berkembang dalam diri individukarena pengalaman dan dipelajari
(conditioning
and reinforcement
). Ke dalam golongan ini
termasuk :
•
Takut yang dipelajari (
learning fears
).
•
Motif-motif sosial (ingin
diterima, dihargai,
conformitas
, afiliasi, persetujuan, status,merasa aman, dan sebagainya).
•
Motif-motif objektif dan
interest
(eksplorasi, manipulasi,
minta).
•
Maksud (
purposes)
dan aspirasi.
•
Motif berprestasi
(achievement motive).
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
•
Belajar, pada hakekatnya
adalah proses interaksi terhadap semuasituasi yang ada di sekitar individu.
•
Konsep dasar pembelajaran
dilandasi oleh landasan
filsafat,psikologis, sosiologis, dan komunikasi.
•
Proses pembelajaran yang telah direncanakan dengan baik akanmencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Selain menerapkan prosespembelajar telah ditata
dengan baik, juga harus selalu meminta
feed back
dan melakukan kajian untuk terus
membenahi prosespembelajaran. Proses pembelajaran dapat melalui tatap
muka didalam ruang kelas dan dapat
melalui media elektronik.
•
Perkembangan konsep dasar
pembelajaran dibagi menjadi 4, yaitupersiapan (
preparation
), penyampaian (
presentation
), latihan(
practice
), dan penampilan hasil (
performance
).
•
Hasil pembelajaran dipengaruhi
oleh faktor internal yang meliputifisiologis, psikologis, dan kematangan; serta
faktor eksternal yangmeliputi
faktor sosial, budaya, lingkungan
fisik, dan spiritual(keagamaan).
•
Terdapat dua macam motif yang mempengaruhi hasilpembelajaran, yaitu motif primer berupa dorongan;
serta motif sekunder, yang meliputi
learning fears
, motif-motif
sosial, motif-motif
objektif dan
interest
, maksud dan aspirasi, serta
motif untukberprestasi.
3.2.Saran
•
Lebih memahami
mengenai konsep pembelajaran danlandasannya
agar dapat menjadi guru/pengajar yang baik.
•
Peka terhadap perkembangan
peserta didik.
•
Dapat menciptakan lingkungan
yang nyaman bagi pesertadidik.
•
Membangkitkan motivasi-motivasi pada peserta didik.
•
Merencanakan
proses pembelajaran agar terlaksanadengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Tim Pengembang
MKDP Kurikulum
dan Pembelajaran.
Kurikulum
&Pembelajaran.
2006. Bandung : Jurusan
Kurikulum dan TeknologiPendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas PendidikanIndonesia.
1. TEORI BELAJAR
HUMANISTIK
Abraham Maslow dan Carl Rogers termasuk kedalam
tokoh kunci humanisme. Tujuan utama dari humanisme dapat dijabarkan sebagai
perkembangan dari aktualisasi diri manusia automomous. Dalam humanisme, belajar
adalah proses yang berpusat pada pelajar dan dipersonalisasikan, dan peran
pendidik adalah sebagai seorang fasilitator.
Afeksi dan kebutuhan kognitif adalah kuncinya, dan goalnya
adalah untuk membangun manusia yang dapat mengaktualisasikan diri dalam
lingkungan yang kooperatif dan suportif. Dijelaskan juga bahwa pada hakekatnya
setiap manusia adalah unik, memiliki potensi individual dan dorongan internal
untuk berkembang dan menentukan perilakunya. Kerana itu dalam kaitannya maka
setiap diri manusia adalah bebas dan memiliki kecenderungan untuk tumbuh dan
berkembang mencapai aktualisasi diri.
2.TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
Menurut teori behavioristik, belajar adalah
perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan
respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan
perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan
yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara
yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
3.TEORI
PEMBELAJARAN SOSIAL
Teori
Perilaku (Bandura)
mendapatkan hasil yang diinginkan (Bandura, 1986
dan Wielkeiwicks, Konsep motivasi belajar berkaitan erat dengan prinsip
bahwa perilaku yang memperoleh penguatan(reinforcement) di masa
lalu lebih memiliki kemungkinan diulang dibandingkan dengan perilaku yang tidak
memperoleh penguatan atau perilaku yang terkena hukuman (punishment).
Dalam kenyataannya, daripada membahas konsep motivasi belajar, penganut teori
perilaku lebih memfokuskan pada seberapa jauh siswatelah belajar
untuk mengerjakan pekerjaan sekolah dalam rangka 199) 5.
4. TEORI BELAJAR KOGNITIF
AUSUBEL : TEORI BELAJAR BERMAKNA
Ausubel berpendapat
bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses
belajar yang bermakna. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa
aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan
dasar- akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung.
Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung
akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau
guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.
Psikologi Perkembangan Anak & Remaja
Buku Psikologi Perkembangan Anak & Remaja ini merupakan buku karya Dr.
H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd. Buku ini membahas tentang psikologi perkembangan
anak & remaja dari beberapa perspektif ilmuan Barat yang melakukan
penelitian terhadap beberapa sample.
Problema anak lahir dari ketidakpahaman kita sebagai orang tua. Maka
pemanfaatan temuan-temuan psikolog perkembangan tentang proses perubahan setiap
aspek perkembangan :
1. Penyusunan
kurikulum
2. Penetapan
& penyusunan sekuensi materi pelajaran
3. Penerapan
pendekatan/ metode pembelajaran
4. Penggunaan
alat peraga
5. Penyusunan
evaluasi hasil belajar
6. Penyelenggaraan
program bimbingan & konseling
Dalam pengkajian
Psikologi perkembangan dipelajari tentang perubahan tingkah laku &
kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi
sampai mati (Ross Vasta, 1992)
Tujuan penelitian perkembangan :
1. Memberikan
gambaran tentang tingkah laku anak yang meliputi pertanyaan-pertanyaan seperti
: kapan bayi mulai berjalan? Apa keterampilan sosial yang khas bagi anak usia 4
tahun? Bagaimana anak usia kelas 6 memecahkan konflik dengan teman-temannya?
2. Mengidentifikasi
faktor penyebab & proses yang melahirkan perubahan perilaku dari satu perkembangan
berikutnya. Faktor-faktor ini meliputi warisan genetika, karakteristik biologis
& struktur otak, lingkungan fisik & sosial dalam kehidupan anak &
pengalaman-pengalaman anak.
Beberapa Teori Perkembangan
1. Pendekatan
perkembangan kognitif, kunci untuk memahami tingkah laku anak terletak pada
pemahaman tentang bagaimana pengetahuan tersebut terstruktur dalam berbagai
aspeknya. Ada 3 model perkembangan kognitif :
a. Model
dari Piaget, intelegensi bukan sesuatu yang dimiliki anak, tapi yang
dilakukannya. Perkembangan kognitif (intelegensi) meliputi 4 tahap / periode
dibawah ini
Tabel perkembangan kognitif menurut Piaget
|
Periode
|
Usia
|
Deskripsi Perkembangan
|
|
1. Sensorimotor
|
0-2 tahun
|
Pengetahuan anak diperoleh melalui interaksi fisik, baik dengan orang
lain/objek(benda), skema-skemanya baru berbentuk refleks-refleks sederhana,
seperti : menggenggam/mengisap
|
|
2. Praoperasional
|
2-6 tahun
|
Anak mulai menggunakan simbol-simbol untuk merepresentasi dunia
(lingkungan) secara kognitif. Simbol-simbol itu seperti kata-kata &
bilangan yang dapat menggantikan objek, peristiwa & kegiatan (tingkah
laku yang tampak)
|
|
3. Operasi konkret
|
6-11 tahun
|
Anak sudah dapat membentuk operasi-operasi mental atas pengetahuan yang
mereka miliki. Mereka dapat menambah,mengurangi & mengubah. Operasi ini
memungkinkannya untuk dapat memecahkan masalah secara logis.
|
|
4. Operasi formal
|
11 tahun -dewasa
|
Periode ini merupakan operasi mental tingkat tinggi. Disini, anak
(remaja) sudah dapat berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa hipotesis/
abstrak, tidak hanya dengan objek-objek konkret. Remaja sudah dapat berpikir
untuk memecahkan masalah melalui penggunaan alternatif yang ada.
|
b. Model
pemrosesan informasi, meliputi 3 hal:
1. Input
: proses informasi dari lingkungan/ stimulasi (rangsangan) yang masuk kedalam
reseptor-reseptor panca indera dalam bentuk penglihatan suara & rasa.
2. Proses
: pekerjaan otak untuk mentransformasikan informasi/ stimulasi dalam cara yang
beragam yang meliputi mengolah/menyusun informasi kedalam bentuk-bentuk
simbolik,membandingkan dengan informasi sebelumnya, memasukkan ke dalam memori
& menggunakannya bila diperlukan.
3. Output
: yang berbentuk tingkah laku, seperti : berbicara, menulis, interaksi sosial
dsb.
c. Model kognisi sosial, kebudayaan telah mengajari anak tentang apa yang
dipikirkan & bagaimana cara berpikir. Lev Vygotsky meyakini bahwa
perkembangan kognitif menghasilkan proses sosio instruksional yang karenanya
anak belajar saling tukar pengalaman dalam memecahkan masalah dengan orang
lain, seperti orang tua, guru, saudara & teman sebaya. Perkembangan
merupakan proses internalisasi terhadap kebudayaan yang membentuk pengetahuan
& alat adaptasi yang wahana utamanya melalui bahasa/ komunikasi verbal.
Kognisi sosial = pengetahuan tentang lingkungan sosial dan hubungan
interpersonal. Model ini menekankan tentang dampak/ pengaruh pengalaman sosial
terhadap perkembangan kognitif. Tokoh dari perkembangan ini yaitu Lev Vygosky
(1886-1934) ahli psikologi dari Rusia. Teori ini menekankan tentang kebudayaan
sebagai faktor penentu bagi perkembangan individu. Diyakini, bahwa hanya
manusia yang dapat menciptakan kebudayaan & setiap anak manusia berkembang
dalam konteks kebudayaannya. Kebudayaan memberikan 2 kontribusi terhadap
perkembangan intelektual anak : anak memperoleh banyak sisi pemahamannya &
anak memperoleh banyak cara berpikir/ alat-alat adaptasi intelektual (bahasa)
2. Pendekatan
belajar/lingkungan, teori-teori belajar/lingkungan berakar dari asumsi bahwa
tingkah laku anak diperoleh melalui pengkondisian (conditioning) dan
prinsip-prinsip belajar. Disini dibedakan antara tingkah laku yang dipelajari
dengan yang temporer (tidak dapat diamati/ yang berdasarkan proses biologis)
dalam hal ini Skinner membedakan “respondent behavior” dengan “operant
behavior”.
a. Respondent
behavior, merupakan respons yang didasarkan kepada refleks yang dikontrol
stimulus. Respon ini terjadi ketika ada stimulus dan tidak terjadi apabila
stimulus tidak ada. Dalam kehidupan manusia, tingkah laku responden terjadi
selama masa anak yang termasuk didalamnya refleks, seperti : mengisap &
menggenggam. Anak-anak juga orang dewasa biasa menampilkan tingkah laku
responden yaitu dalam bentuk respon fisiologis (seperti bersin) dan respon
emosional (seperti sedih & marah)
b. Operant
behavior, yaitu tingkah laku sukarela yang dikontrol oleh dampak/konsekuennya.
Pada umumnya dapat tingkah laku yang menyenangkan cenderung akan diulang
kembali, sedangkan yang tidak menyenangkan cenderung ditinggalkan (tidak
diulang kembali)
Ada 4 tipe cara pengkondisian dalam kegiatan belajar :
1. Habituasi, yaitu bentuk belajar sederhana yang melibatkan tingkah laku responden dan
terjadi ketika respon refleks menghilang karena diperolehnya stimulus yang
samasecara berulang. Seperti : jika kita bertepuk tangan di dekat bayi maka dia
akan memperlihatkan respon kekagetannya/keterkejutannya dengan membalikkan
seluruh badannya/menoleh. Apabila bertepuk tangan diulang-ulang dengan
frekuensi yang relatif sama (sekitar 15 detik) sekali maka respons kekagetannya
akan menghilang
2. Respondent conditioning (classical) merupakan salah satu bentuk belajar yang netral,
melibatkan refleks dimana stimulus memperoleh kekuatan untuk mendapatkan respon
reflektif
3. Operant conditioning, bentuk belajar dimana tingkah laku operan berubah
karena dipengaruhi oleh dampak tingkah laku tersebut. Dampak yang membuat suatu
respons terjadi kembali disebut “reinforcer” seperti : (a) seorang anak
meminjamkan boneka kepada temannya, karena dengan melakukan perbuatan tersebut
‘anakitu sering mendapatkan pinjaman serupa dari temannya dan (b) anak menangis
di toko swalayan karena kebiasaan menangisnya itu menyebabkan ibunya membelikan
boneka/permen.
4. Discriminating learning tipe belajar yang sangat erat dengan ‘operant
conditioning’ kadang-kadang tingkah laku yang sama dari anak yang sama
menghasilkan dampak yang berbeda, bergantung pada keadaan, seperti : kegiatan
agresif (menyerang) mungkin akan mendapat pujian pada saat bermain sepak bola
tetapi akan mendapat hukuman apabila dilakukan diruang kelas.
Teori lain dari pendekatan ini yaitu model belajar sosial, model ini sangat
dipengaruhi oleh pemikiran Albert Bandura yang lebih mengajukan peranan
faktor-faktor kognitif dari pada analisis tingkah laku. Asumsi terpentingnya
adalah bahwa belajar observasional terjadi ketika tingkah laku observer (anak)
berubah sebagai hasil dari pandangannya terhadap tingkah laku seorang model
(seperti orang tua, guru, saudara, teman, pahlawan, bintang film dll). Hal yang
sangat penting dari ‘modeling’ adalah mencontoh tingkah laku yang di observasi
dalam bentuk yang umum. Bandura meyakini bahwa belajar melalui observasi
(observational learning/ modeling itu melibatkan 4 proses, yaitu: (1)
attentional, yaitu proses dimana observer/anak menaruh perhatian terhadap
tingkah laku/ penampilan model [orang yang diimitasi], (2) retention yaitu
proses yang merujuk kepada upaya anak untuk memasukkan informasi tentang model,
seperti karakteristik penampilan fisiknya, mental & tingkah lakunya kedalam
memori (3) production, yaitu proses mengontrol tentang bagaimana anak dapat
mereproduksi respons/ tingkah laku model. Kemampuan mereproduksi ini bisa
berbentuk keterampilan fisik/kemampuan mengidentifikasi tingkah laku model (4)
motivational yaitu proses pemilihan tingkah laku model yangdiimitasi oleh anak.
Dalam proses ini terdapat faktor penting yang mempengaruhinya yaitu
‘reinforcement’/’punishment’, apakah terhadap model / langsung kepada anak)
3. Pendekatan Imam Al-Ghazali
Al-Ghazali berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan membawa fitrah yang
seimbang dan sehat. Kedua orangtuanyalah yang memberikan agama kepada mereka.
Demikian pula anak dapat terpengaruh oleh sifat-sifat yang buruk dari lingkungan
yang dihidupinya dan corak hidup yang memberikan peranan kepadanya dan dari
kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya. Ketika dilahirkan, keadaan tubuh anak
belum sempurna. Kekurangan ini diatasinya dengan latihan & pendidikan yang
ditunjang dengan makanan. Demikian pula halnya dengan tabiat yang difitrahkan
kepada anak yang merupakan kebajikan yang diberikan al-khalik kepadanya. Tabiat
ini dalam keadaan berkekurangan (dalam keadaan belum berkembang dengan
sempurna) dan dapat disempurnakan serta diperindah dengan pendidikan yang baik,
yang oleh al-Ghazali dipandang sebagai salah satu proses yang penting &
tidak mudah. Al-Ghazali mengatakan bahwa penyembuhan badan memerlukan seorang
dokter yang tahu tentang tabiat badan serta macam-macam penyakitnya dan tentang
cara-cara penyembuhannya. Demikian pula halnya dengan penyembuhan jiwa &
pendidikan akhlak. keduanya membutuhkan pendidik yang tahu tentang tabiat dan
kekurangan jiwa manusia serta tentang cara memperbaiki dan mendidiknya.
Kebodohan dokter akan merusak kesehatan orang sakit.
Begitu pun kebodohan guru & pendidik akan merusak akhlak muridnya.
Sesungguhnya setiap penyakit memiliki obat dan cara penyembuhannya, al-Ghazali
berkata : “...Demikianlah guru yang diikuti yang mengobati jiwa
murid-muridnya dan hati orang-orang yang diberi petunjuk, hendaknya tidak
membebani mereka dengan berbagai latihan & tugas dalam bidang khusus dengan
beban metode yang khusus pula sebelum ia mengetahui akhlak serta penyakit
mereka. Apabila dokter mengobati seluruh pasien dengan obat yang sama, maka ia
akan membunuh banyak manusia. demikian pula halnya dengan guru apabila ia
mengarahkan seluruh murid kepada satu macam pola yang sama, niscaya ia
akan menghancurkan mereka dengan mematikan hati mereka. Oleh karena itu, hendaknya
guru memperhatikan penyakit, keadaan, usia dan tabiat serta motivasi peserta
didiknya. Atas dasar itulah hendaknya ia memprogram pendidikannya”
Al-Ghazali tidak menganjurkan penggunaan satu metode saja dalam menghadapi
permasalahan akhlak serta pelaksanaan pendidikan anak. Dia menganjurkan agar
guru memilih metode pendidikan sesuai dengan usia dan tabiat anak, daya tangkap
dan daya tolaknya (daya persepsi dan daya rejeksinya) sejalan dengan situasi
kepribadiannya. Dengan ini, sekali-kali al-Ghazali memperhatikan masalah
perbedaan individual didalam melaksanakan pendidikan.
Dalam upaya mengembangkan akhlakul karimah (akhlak mulia) anak, ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Menjauhkan
anak dari pergaulan yang buruk
2. Membiasakannya
untuk bersopan santun
3. Memberikan
pujian kepada anak yang melakukan amal shaleh, misalnya berbuat sopan dan
mencela anak yang melakukan kezaliman/kelaliman
4. Membiasakannya
mengenakan pakaian yang bersih dan rapih
5. Menganjurkan
mereka untuk berolah raga
6. Menginzinkannya
bermain setelah belajar
7. Dll
Memahami Perkembangan Anak
Ada beberapa point yang harus diperhatikan untuk mengembangkan potensi anak
agar optimal, yaitu :
1. Masa
anak merupakan periode perkembangan yang cepat dan terjadinya perubahan dalam
banyak aspek perkembangan
2. Pengalaman
masa kecil memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya
3. Pengetahuan
tentang perkembangan anak dapat membantu mereka mengembangkan diri dan
memecahkan masalah yang dihadapinya
4. Melalui
pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, dapat
diantisipasi tentang berbagai upaya untuk memfasilitasi perkembangan tersebut,
baik dilingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Disamping itu, dapat
diantisipasi juga tentang upaya untuk mencegah berbagai kendala/ faktor-faktor
yang mungkin akan mengkontaminasi (meracuni) perkembangan anak.
Konsep Dasar Perkembangan
Pengertian dan ciri-ciri perkembangan
Perkembangan = perubahan yang progresif dan kontinue dalam diri individu
dari mulai lahir sampai mati (The progressive and continous change in the
organism from birth to death). Impulsif = dorongan untuk bertindak sebelum
berpikir.
Setiap fase perkembangan memiliki ciri khas, prinsip ini bisa dijelaskan
dengan contoh berikut : (a) sampai usia 2 tahun, anak memusatkan untuk mengenal
lingkungannya, menguasai gerak-gerik fisik & belajar berbicara, (b) pada
usia 3-6 tahun, perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia sosial (belajar
bergaul dengan orang lain)
Tahap perkembangan berdasarkan analisis biologis
Sekelompok ahli menentukan pembabakanitu berdasarkan keadaan/proses
pertumbuhan tertentu, yaitu :
Aristoteles menggambarkan
perkembangan individu, sejak anak sampai dewasa itu kedalam 3 tahapan. Setiap
tahapan lamanya 7 tahun, yaitu : (1) Tahap I : dari 0-7 tahun (masa anak kecil,
masa bermain), (2) Tahap II : dari 7-14 tahun (masa anak, masa sekolah dasar),
(3) Tahap III : dari 14-21 tahun (masa remaja/pubertas, masa peralihan dari usia
anak menjadi orang dewasa)
Penahapan ini didasarkan pada gejala dalam perkembangan fisik. Hal
ini dijelaskan bahwa antara tahap I dan tahap II dibatasi oleh pergantian gigi,
antara tahap II dan tahap III ditandai dengan mulai berfungsinya organ-organ reproduksi
Kretscmer, mengemukakan bahwa
dari lahir hingga dewasa, individu melewati 4 tahapan : (1) Tahap I : dari 0-3
tahun, fullungs (pengisian) dimana anak tampak pendek gemuk, (2) Tahap II :
dari 3-7 tahun, streckungs dimana anak tampak langsing meninggi, (3)Tahap III :
dari 7-13 tahun, anak tampak pendek gemuk kembali, (4)Tahap IV dari 13-20
tahun, anak nampak kembali langsing
Elizabeth Hurlock mengemukakan
penahapan perkembangan individu, yaitu : (1) Tahap I, fase prenatal, sebelum
lahir yaitu 9bulan/280hari, (2)Tahap II, infancy/orok yaitu sejak lahir-usia
10/14 hari, (3) tahap III, babyhood(bayi) dari 2 minggu -2 tahun, (4)Tahap IV,
childhood (kanak-kanak) mulai dari 2 tahun-masa remaja, (5)Tahap V,
adolesence/puberty mulai usia 11/13 tahun-21 tahun.
Tahap Perkembangan Berdasarkan Didaktis
Dasar didaktis / instruksional yang dipergunakan oleh para ahli ada
beberapa kemungkinan :
1. Apa
yang harus diberikan kepada anak didik pada masa-masa tertentu?
2. Bagaimana
caranya mengajar/menyajikan pengalaman belajar kepada anak didik pada masa-masa
tertentu?
3. Kedua
hal tersebut dilakukan secara bersamaan yang dapat digolongkan ke dalam
penahapan berdasarkan didaktis dimana bahan pengajaran (bahan pendidikan) yang
sesuai dengan perkembangan anak didik & harus dipergunakan metode
penyampaian yang sesuai dengan perkembangannya.
Fase-fase perkembangan individu
|
Tahap Perkembangan
|
Usia
|
|
Masa Usia Pra sekolah
|
0-6 tahun
|
|
Masa usia sekolah dasar
|
6-12 tahun
|
|
Masa usia sekolah menengah
|
12-18 tahun
|
|
Masa usia mahasiswa
|
18-25 tahun
|
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
Hereditas/ keturunan merupakan aspek individu yang bersifat bawaan &
memiliki potensi untuk berkembang seberapa jauh perkembangan individu itu
terjadi & bagaimana kualitas perkembangannya, bergantung pada kualitas
hereditas & lingkungan yang mempengaruhinya. Lingkungan adalah faktor
penting disamping hereditas yang menentukan perkembangan individu. Lingkungan
meliputi fisik, psikis, sosial & religius.
Fungsi keluarga secara psikososiologis :
1. Pemberi
rasa aman bagi anak & anggota keluarga lainnya
2. Sumber
pemenuhan kebutuhan, fisik & psikis
3. Sumber
kasih sayang & penerimaan
4. Model
pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakatnya
yang baik
5. Pemberi
bimbingan bagi pengembangan kepribadian
6. Stimulator
bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi baik disekolah maupun
masyarakat
7. Pembimbing
dalam mengembangkan aspirasi
Keluarga yang fungsional ditandai dengan karakteristik :
1. Saling
memperhatikan & mencintai
2. Bersikap
terbuka & jujur
3. Orang
tua mau mendengar anak, menerima perasaannya dan menghargai pendapatnya
4. Ada
sharing masalah/ pendapat diantara anggota keluarga
5. Mampu
berjuang mengatasi masalah hidupnya
6. Saling
menyesuaikan diri & mengakomodasi
7. Orang
tua melindungi (mengayomi) anak
8. Komunikasi
antar anggota keluarga berlangsung dengan baik
9. Keluarga
memenuhi kebutuhan psikososial anak
10. Mampu menyikapi perubahan
yang terjadi
Alexander A. Schneiders (1960) mengemukakan : keluarga ideal ditandai
dengan :
1. Minimnya
perselisihan antar orang tua/ orang tua dengan anak
2. Ada
kesempatan untuk mengatakan keinginan
3. Penuh
kasih sayang
4. Penerapan
disiplin yang tidak keras
5. Ada
kesempatan untuk bersikap mandiri dalam berpikir, merasa & berperilaku
6. Saling
menghormati, menghargai (mutual respect) di antara orang tua dengan anak
7. Ada
musyawarah keluarga dalam memecahkan masalah
8. Menjalin
kebersamaan
9. Orang
tua memiliki emosi stabil
10. Berkecukupan dalam bidang
ekonomi
11. Mengamalkan nilai-nilai
agama
Untuk merespon berbagai masalah yang mengganggu keharmonisan keluarga, covey
mengajukan resep yang dinamakan The 7 habits of highly effective families.
Effective family = a beautiful family culture
1. Semangat
keluarga, perasaan, iklim/atmosfir keluarga
2. Karakter
keluarga, kedalaman kualitas & kematangan interaksi
3. Cara
para anggota untuk empati
4. Spirit/perasaan
yang mengembangkan pola tingkah laku kolektif yang dengan adanya interaksi
keluarga
7 kebiasaan keluarga yang efektif :
1. Be
proactive, menjadi pembaharu dalam keluarga
2. Begin
with the endin mind, misi pernikahan/keluarga
3. Put
first things first
4. Think
win-win, para anggota keluarga berpikir dalam tatanan yang saling
menguntungkan, mereka memelihara dukungan & sikap saling menghormati
5. Seek
first to understand... then to be understood (memecahkan masalah keluarga
melalui komunikasi yang empatik). Para anggota keluarga kali pertama
mendengarkan secara intensif untuk memahami pikiran dan perasaan anggota
lainnya sehingga mampu berkomunikasi secara efektif terhadap pikiran &
perasaan sendiri. Melalui pemahaman, mereka membangun hubungan kepercayaan dan
kasih sayang yang mendalam
6. Synergize,
para anggota keluarga mengembangkan kekuatan-kekuatan keluarga & para
anggotanya melalui sikap menghormati & penilaian terhadap perbedaan
masing-masing dalam hal ini keutuhan menjadi lebih penting
7. Sharpen
the saw (‘memperuncing gergaji’), keluarga mengembangkan efektivitasnya melalui
pembaharuan pribadi dan keluarga secara reguler dalam 4 bidang : memelihara
gizi & mengelola stres, sosial/emosional (menjalin persahabatan, memberikan
bantuan, mendengarkan orang lain secara empatik & menciptakan sinergi),
spiritual (berdoa, shalat, membaca al-qur’an), mental (membaca, menulis,
mengembangkan bakat & belajar keterampilan)
Untuk mengembangkan/menanamkan ke7 kebiasaan tersebut, covey mengajukan 4
prinsip peranan keluarga :
1. Modelling
(example of trustworthness), orang tua adalah contoh / model bagi anak, cara
berpikir & berbuat anak dibentuk oleh cara berpikir & berbuat ortunya
2. Mentoring
yaitu kemampuan untuk menjalin/ membangun hubungan, investasi emosional (kasih
sayang kepada orang lain)/ pemberian perlindungan kepada orang lain secara
mendalam, jujur. Ada 5 cara untuk memberikan kasih sayang kepada orang lain
yaitu : (1) empathizing(mendengarkan hati orang lain dengan hati sendiri),
(2)sharing: berbagi wawasan, emosi & keyakinan, (3) affirming, memberikan
ketegasan (penguatan) kepada orang lain dengan kepercayaan, penilaian,
konfirmasi, apresiasi & dorongan, (4) praying, mendoakan orang lain secara
ikhlas dari jiwa yang paling dalam, (5)sacrificing: berkorban untuk orang lain
3. Organizing,
untuk meluruskan struktur & sistem keluarga dalam rangka untuk membantu
menyelesaikan hal-hal yang penting
4. Teaching:
ortu =guru bagi anak-anaknya, peran ortu sebagai guru = menciptakan conscious
competence pada diri anak yaitu mereka memahami tentang apa yang mereka
kerjakan dan alasan tentang mengapa mereka mengerjakan itu.
Terdapat beberapa pola sikap/perlakuan ortu terhadap anak yang
masing-masing memiliki pengaruh tersendiri terhadap kepribadian anak (Hurlock,
1956) pola-pola tersebut dapat disimak dibawah ini:
Sikap/perlakuan ortu & dampaknya terhadap
kepribadian anak
|
Pola perlakuan ortu
|
Perilaku ortu
|
Profil tingkah laku anak
|
|
1.
Overprotection (terlalu melindungi)
|
1.
Kontak yang belebihan dengan anak
2.
Perawatan /pemberian bantuan kepada
anak yang terus menerus, meskipun anak sudah mampu merawat dirinya sendiri
3.
Mengawasi kegiatan anak secara
berlebihan
4.
Memecahkan masalah anak
|
1. Perasaan tidak aman
2. Agresif & dengki
3. Mudah merasa gugup
4. Melarikan diri dari kenyataan
5. Sangat tergantung
6. Ingin menjadi pusat perhatian
7. Bersikap menyerah
8. Lemah dalam ego strength. Aspiratif, toleransi
terhadap frustasi
9. Kurang mampu mengendalikan emosi
10.
Menolak tanggungjawab
11.
Kurang percaya diri
12.
Mudah terpengaruh
13.
Peka terhadap kritik
14.
Bersikap ‘Yes Men’
15.
Egois/selfish
16.
Suka bertengkar
17.
Troublemaker
18.
Sulit dalam bergaul
19.
Mengalami ‘homesick’
|
|
2.
Permissiveness (pembolehan)
|
1.
Memberikan kebebasan untuk berpikir/berusaha
2.
Menerima gagasan/pendapat
3.
Membuat anak merasa diterima &
merasa kuat
4.
Toleran & memahami kelemahan
anak
5.
Cenderung lebih suka memberi yang
diminta anak
|
1.
Pandai mencari jalan keluar
2.
Dapat bekerjasama
3.
Percaya diri
4.
Penuntut & tidak sabaran
|
|
3.
Rejection (penolakan)
|
1.
Bersikap masa bodoh
2.
Bersikap kaku
3.
Kurang memperdulikan kesejahteraan
anak
4.
Menampilkan sikap
permusuhan/dominasi terhadap anak
|
1. Agresif (mudah marah, gelisah, tidak patuh,
keras kepala, suka bertengkar &nakal)
2. Submissive (kurang dapat mengerjakan tugas,
pemalu, suka mengasingkan diri, mudah tersinggung,penakut)
3. Sulit bergaul
4. Pendiam
5. Sadis
|
|
4 Acceptance
(penerimaan)
|
1.
Memberikan perhatian & cinta
kasih yang tulus kepada anak
2.
Menempatkan anak dalam posisi yang
penting didalam rumah
3.
Mengembangkan hubungan yang hangat
dengan anak
4.
Bersikap respek terhadap anak
5.
Mendorong anak untuk menyatakan
perasaan/pendapatnya
6.
Berkomunikasi dengan anak secara
terbuka & mau mendengarkan masalahnya
|
1. Mau bekerjasama (kooperatif)
2. Bersahabat
3. Loyal
4. Emosinya stabil
5. Ceria & bersikap optimis
6. Mau menerima tanggungjawab
7. Jujur
8. Dapat dipercaya
9. Memiliki perencanaan yang jelas untuk mencapai
masa depan
10.bersikap realistis
(memahami kekuatan & kelemahan dirinya secara objektif)
|
|
5.Domination (dominasi)
|
Mendominasi anak
|
1.
Bersikap sopan & sangat
berhati-hati
2.
Pemalu, penurut, inferior & mudah
bingung
3.
Tidak dapat bekerjasama
|
|
6.Submission
(penyerahan)
|
1. senantiasa
memberikan sesuatu yang diminta anak
2. membiarkan
anak berperilaku semaunya dirumah
|
1. tidak patuh
2. tidak
bertanggungjawab
3. agresif, teledor,
lalai
4. bersikap otoriter
5. terlalu percaya diri
|
|
7.
Punitiveness/ overdiscipline
(terlalu disiplin)
|
1.
Mudah memberikan hukuman
2.
Menanamkan kedisiplinan secara
keras
|
1.
Impulsif
2.
Tidak dapat mengambil keputusan
3.
Nakal
4.
Sikap bermusuhan/agresif
|
Peck (Loree, 1970) telah
meneliti hubungan antara karakteristik emosional dan pola perlakuan keluarga
dengan elemen-elemen struktur kepribadian remaja : hasil temuannya menunjukkan
bahwa :
1. Remaja
yang memiliki ‘ego strength’ (kematangan emosional, integrasi pribadi
bertingkah laku rasional, persepsi diri & sosial yang akurat &
keinginan untuk menyesuaikan diri dengan harapan-harapan masyarakat), secara
konsisten berkaitan erat dengan pengalamannya dilingkungan keluarga yang saling
mempercayai & menerima
2. Remaja
yang memiliki “super ego strength” (berperilaku secara efektif yang dibimbing
oleh kata hatinya) sangat berkaitan erat dengan keteraturan & konsistensi
kehidupan keluarganya
3. Remaja
yang ‘friendsliness’ & ‘spontanetty’ berhubungan erat dengan iklim keluarga
yang harmonis
4. Remaja
yang bersikap bermusuhan & memiliki perasaan gelisah/cemas terhadap
dorongan-dorongan dari dalam, berkaitan erat dengan keluarga yang otoriter
Diana Baumrind (Weiten & Lioyd, 1994) mengemukakan hasil penelitiannya
melalui observasi & wawancara terhadap siswa TK. Penelitin ini dilakukan
dirumah & sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya perlakuan
ortu (parenting style) & kontribusinya terhadap kompetensi sosial, emosional
& intelektual siswa
Pengaruh ‘Parengting Style’ terhadap perilaku anak
|
Parenting styles
|
Sikap/perilaku ortu
|
Profil perilaku anak
|
|
1. Authoritarian
|
1.
Sikap ‘acceptance’ rendah, namun
kontrolnya tinggi
2.
Suka menghukum secara fisik
3.
Bersikap mengomando (mengharuskan /
memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi)
4.
Bersikap kaku (keras)
5.
Cenderung emosional & bersikap
menolak
|
1.
Mudah tersinggung
2.
Penakut
3.
Pemurung, tidak bahagia
4.
Mudah terpengaruh
5.
Mudah stress
6.
Tidak memiliki arah masa depan yang
jelas
7.
Tidak bersahabat
|
|
2.
Permissive
|
1.
Sikap ‘acceptance’-nya tinggi,
namun kontrolnya rendah
2.
Memberi kebebasan kepada anak untuk
menyatakan dorongan/ keinginannya
|
1.
Bersikap impulsif & agresif
2.
Suka memberontak
3.
Kurang memiliki rasa percaya diri
4.
Suka mendominasi
5.
Tidak jelas arah hidupnya
6.
Prestasinya rendah
|
|
3.
Authoritative
|
1.
Sikap ‘acceptance’ & kontrolnya
tinggi
2.
Bersikap responsif terhadap kebutuhan
anak
3.
Mendorong anak untuk menyatakan
pendapat/pertanyaan
4.
Memberikan penjelasan tentang
dampak perbuatan yang baik & buruk
|
1.
Bersikap bersahabat
2.
Memiliki rasa percaya diri
3.
Mampu mengendalikan diri
4.
Bersikap sopan
5.
Mau bekerja sama
6.
Memiliki rasa ingin tahunya yang
tinggi
7.
Mempunyai tujuan/arah hidup yang
jelas
8.
Berorientasi terhadap prestasi
|
Selanjutnya, Braumrind mengemukakan tentang dampak ‘parenting style’
terhadap prilaku remaja,yaitu :
1. Remaja
yang ortunya bersikap’authoritarian’, cenderung bersikap bermusuhan &
memberontak
2.
Remaja yang ortunya ‘permisif’,
cenderung berperilaku bebas
3. Remaja
yang ortunya ‘authotitative’, cenderung terhindar dari kegelisahan,
kekacauan/perilaku nakal
Mengkaji hal yang sama, Weiten & Lioyd (1994) mengemukakan 5 prinsip
‘effective parenting’ yaitu :
1. Menyusun/membuat
standar (aturan perilaku) yang dapat dipahami, supaya anak anak diharapkan
untuk berperilaku dengan cara yang tepat sesuai dengan usianya
2. Menaruh
perhatian terhadap perilaku anak yang baik & memberikan reward. Perlakuan
ini perlu dilakukan sebagai pengganti dari kebiasaan ortu pada umumnya yaitu
bahwa mereka suka menaruh perhatian kepada anak pada saat anak berperilaku
menyimpang namun membiarkan ketika melakukan yang baik
3. Menjelaskan
alasannya (tujuannya) ketika meminta anak untuk melakukan sesuatu
4. Mendorong
anak untuk menelaah dampak perilakunya terhadap orang lain
5. Menegakkan
aturan secara konsisten
Kelas sosial & status ekonomi
Maccoby & Mcloyd (sigelman & shaffer, 1995) telah membandingkan
ortu kelas menengah & atas dengan kelas bawah/pekerja. Hasilnya menunjukkan
bahwa ortu kelas bawah/pekerja cenderung:
· Sangat menekankan kepatuhan & respek terhadap
otoritas
· Lebih restriktif (keras)& otoriter
· Kurang memberikan alasan kepada anak
· Kurang bersikap hangat & memberi kasih sayang
kepada anak
Pikunas (1976) mengemukakan pendapat Becker, Deutsch, Kohn & Sheldon,
tentang kaitan antara kelas sosial dengan cara / teknik ortu dalam mengatur
(mengelola/memperlakukan) anak, yaitu: (1)kelas bawah (lower class), cenderung
lebih keras & lebih sering menggunakan hukuman fisik dibandingkan dengan
kelas menengah. Anak-anak dari kelas bawah cenderung ‘lebih agresif’,
independendll. (2)kelas menengah, cenderung lebih memberikan pengawasan &
perhatiannya sebagai ortu. Para Ibunya merasa bertanggungjawab terhadap tingkah
laku anak-anaknya dan menerapkan kontrol yang lebih halus, mereka memililki
ambisi untuk meraih status yang lebih pendidikan/ latihan profesional. (3)kelas
atas (upper class), cenderung lebih memanfaatkan waktu luangnya dengan
kegiatan-kegiatan tertentu, lebih memiliki latar belakang pendidikan yang
reputasinya tinggi & biasanya senang mengembangkan apresiasi, estetikanya,
anaknya cenderung memiliki rasa percaya diri.
Orang tua yang mengalami tekanan ekonomi/perasaan tidak mampu mengatasi
masalah finansialnya, cenderung menjadi depresi & mengalami konflik
keluarga yang akhirnya mempengaruhi masalah remaja seperti kurang harga diri,
prestasi belajar rendah, kurang dapat bergaul dengan teman, mengalami masalah
penyesuaian diri (karena depresi & agresi)
Michael Rutter mendefiniskan sekolah yang efektif itu sebagai sekolah yang
memajukan, meningkatkan prestasi, akademik, keterampilan sosial, sopan santun,
sikap positif terhadap belajar, rendahnya angka absen siswa & memberikan
keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan siswa agar mandiri.
Karakteristik guru yang efektif & tidak efektif
Perilaku yang efektif
1. Menampilkan
sikap yang bersemangat
2. Memperlihatkan
perhatian terhadap siswa & kegiatan kelas
3. Bergirang
hati & optimis
4. Memiliki
kemampuan mengendalikan diri & tidak mudah bingung
5. Senang
bergurau/humor
6. Mengakui/menyadari
kesalahan sendiri
7. Bersikap
adil & objektif dalam memperlakukan siswa
8. Bersikap
sabar
9. Menunjukkan
sikap memahami & simpati dalam bekerja dengan siswa
10. Bersahabat & ramah
dalam bergaul dengan siswa
11. Membantu siswa dalam
memecahkan masalahnya (pribadi/pendidikan)
12. Memberikan komentar
&penghargaan kepada siswa yang melakukan tugas dengan baik
13. Menerima & menghargai
usaha siswa
14. Memiliki kemampuan untuk
mengantisipasi reaksi orang lain
15. Mendorong siswa untuk
mencoba melakukan sesuatu dengan cara yang terbaik
16. Merencanakan &
mengorganisasikan prosedur pembelajaran dikelas
17. Bersifat fleksibel dalam
merencanakan prosedur pembelajaran
18. Mengatisipasi kebutuhan
siswa
19. Menstimulasi siswa melalui
materi & teknik yang menarik
20. Mendemonstrasikan &
menerangkan materi pembelajaran dengan jelas]
21. Memberikan tugas dengan
jelas
22. Mendorong siswa untuk
memecahkan masalahnya sendiri & mengevaluasi hasilnya
23. Menegakkan disiplin dengan
cara yang positif
24. Memberikan bantuan kepada
siswa secara ikhlas
25. Mengetahui secara awal
& mencoba memecahkan berbagai masalah potensial
Perilaku Guru Yang Tidak Efektif
1. Sikap
apatis & jenuh
2. Memperlihatkan
kurang perhatian terhadap siswa & kegiatan kelas
3. Depresi,
pesimis & tidak bahagia
4. Mudah
naik darah & mudah bingung
5. Terlalu
serius
6. Tidak
menyadari kesalahan sendiri
7. Tidak
bersikap objektif terhadap siswa
8. Tidak
sabar
9. Bersikap
kurang simpati & sering melecehkan (mencemooh) siswa]
10. Kurang bersahabat/kurang
ramah dalam bergaul dengan siswa
11. Kurang memperhatikan
masalah siswa
12. Tidak memberikan komentar/penghargaan
kepada siswa yang melakukan tugas dengan baik
13. Bersikap curiga terhadap
motif siswa
14. Kurang memiliki kemampuan
untuk mengantisipasi reaksi orang lain
15. Tidak berusaha memberikan
dorongan kepada siswa
16. Tidak merencanakan &
mengorganisasikan prosedur pembelajaran
17. Perencanaan prosedur
pembelajaran bersifat kaku
18. Gagal dalam mengantisifasi
kebutuhan siswa
19. Materi & teknik
pembelajaran tidak menarik perhatian siswa
20. Kurang jelas dalam
mendemonstrasikan & menerangkan materi
21. Kurang jelas dalam
memberikan tugas
22. Kurang memberi kesempatan
kepada siswa untuk memecahkan masalahnya sendiri
23. Kurang menegakkan disiplin
secara positif
24. Memberikan bantuan dengan
setengah hati (ga ikhlas)
25. Gagal dalam memahami &
memecahkan masalah yang potensial
Kelompok Teman Sebaya
Aspek kepribadian remaja yang berkembang secara menonjol dalam
pengalamannya bergaul dengan teman sebaya :
a. Social
cognition: kemampuan untuk memikirkan tentang pikiran, perasaan, motif & tingkah
laku dirinya & orang lain. Kemampuannya memahami orang lain, memungkinkan
remaja untuk lebih mampu menjalin hubungan sosial yang lebih baik dengan teman
sebayanya.
b. Konformitas
: motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam dengan nilai-nilai, kebiasaan,
kegemaran (hobi)/ budaya teman sebayanya
Remaja yang memiliki hubungan yang baik dengan ortunya cenderung dapat
menghindarkan diri dari pengaruh negatif teman sebabanya
TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN
Robert Havighurst melalui perspektif psikososial berpendapat bahwa periode
yang beragam dalam kehidupan individu menuntut untuk menuntaskan tugas-tugas
perkembangan yang khusus.
“A development task is a task which arises at or about a certain period in
the life of the individual, successful achievement of wich leads to his
happiness and to success with later task, while failure leads to unhappiness in
the individual, disapproval by society, and difficulty with later task”
“Tugas perkembangan itu suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam
rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan
akan membawa kebahagiaan & kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya :
sementara jika gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu
yang bersangkutan menimbulkan penolakan masyarakat & kesulitan-kesulitan
dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya”
Munculnya tugas-tugas perkembangan bersumber pada faktor-faktor :
1. Kematangan
fisik, seperti : (a)belajar berjalan karena kematangan otot-otot kaki,
(b)belajar bersikap
2. Tuntutan
masyarakat secara kultural, seperti : (a)belajar membaca, (b)belajar menulis,
(c)belajar berhitung, (d)belajar berorganisasi
3. Tuntutan
dari dorongan & cita-cita individu sendiri, seperti (a)memilih pekerjaan,
(b)memilih teman hidup
4. Tuntutan
norma agama, (a)taat beribadah kepada Allah, (b)berbuat baik kepada sesama
manusia
Tugas-tugas perkembangan pada setiap fase perkembangan
1. Tugas-tugas
perkembangan pada usia bayi & kanak-kanak (0-6 tahun)
· Belajar berjalan terjadi pada usia antara 9-15
bulan, pada usia ini tulang kaki,otot & susunan syarafnya telah matang
untuk belajar berjalan
· Belajar memakan makanan padat, hal ini terjadi
pada tahun ke 2, sistem alat-alat pencernaan makanan & alat-alat pengunyah
pada mulut telah matang untuk hal tersebut.
· Belajar berbicara: mengeluarkan suara yang berarti
& menyampaikannya kepada orang lain dengan perantaraan suara itu yang
memerlukan kematangan otot-otot & syaraf dari alat-alat berbicara
· Belajar buang air & buang air besar sebelum
usia 4 tahun, anak pada umumnya belum dapat mengatasi(menahan) pepsi karena
perkembangan syaraf yang mengatur pembuangan belum sempurna. Untuk memberikan
pendidikan kebersihan terhadap anak usia dibawah 4 tahun, cukup dengan
pembiasaan saja yaitu setiap kali mau buang air, bawalah anak ke WC
· Memberikan konsep-konsep (pengertian) sederhana
kenyataan sosial & alam untuk mencapai kemampuan tersebut (mengenal
pengertian-pengertian) diperlukan kematangan sistem syaraf, pengalaman &
bimbingan dari orang dewasa.
· Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang
tua, saudara & orang lain
· Belajar bersikap dalam keseharian
Anak dikuasai oleh hedonisme naif, dimana kesenangan dianggapnya baik &
penderitaan dianggapnya buruk, dengan bertambahnya usia, ia harus belajar
pengertian tentang baik dan buruk, benar dan salah, sebab sebagai makhluk
sosial (bermasyarakat) manusia tidak hanya memperhatikan kepentingan sendiri saja
tapi juga harus memperhatikan kepentingan orang lain. Anak mengenal pengertian
baik dan buruk, benar dan salah dipengaruhi oleh pendidikan yang diperolehnya.
2. Tugas-tugas perkembangan pada masa sekolah (6-12
tahun)
· Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk
melakukan permainan melalui pertumbuhan fisik & otak, anak belajar &
berlari semakin stabil, makin mantap & cepat. Pada masa sekolah, anak sudah
sampai pada taraf penguasaan otot, sehingga sudah dapat berbaris, melakukan
senam pagi dan permainan-permainan ringan seperti sepak bola, loncat tali,
berenang dll
· Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap
dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. Hakikat tugas ini : (1)mengembangkan
kebiasaan untuk memelihara badan, meliputi kebersihan, keselamatan diri &
kesehatan, (2)mengembangkan sikap positif terhadap diri sendiri dan juga
menerima dirinya (baik rupa wajahnya maupun postur tubuhnya) secara positif
· Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya yakni
belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan & situasi yang baru serta
teman-teman sebayanya
· Belajar memainkan peranan sesuai dengan genjer
· Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis
dan berhitung
· Belajar mengembangkan konsep sehari-hari, ingatan
mengenai pengamatan yang telah lalu itu disebut konsep (tanggapan)
· Mengembangkan kata hati, hakikat tugas ini adalah
mengembangkan sikap dan perasaan yang berhubungan dengan norma-norma agama.
· Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok
sosial dan lembaga-lembaga
TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA
Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan
individu & merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan
masa dewasa yang sehat.
William Kay mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja sebagai berikut:
· Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman
kualitasnya
· Mencapai kemandirian emosional dari
ortu/figur-figur yang memiliki otoritas
· Mengembangkan keterampilan komunikasi
interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya/orang lain, baik secara
individual maupun kelompok
· Menemukan manusia model yang dijadikan
identitasnya
· Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan
terhadap kemampuannya sendiri
· Memperkuat self control atas dasar skala nilai,
prinsip-prinsip/ falsafah hidup (weltanschauung)
· Mampu meninggalkan reaksi & penyesuaian diri
Tujuan Perkembangan Masa Remaja
|
Dari
arah
|
Ke Arah
|
|
Kematangan Emosional & Sosial
|
|
|
1. Tidak toleran & bersikap superior
2. Kaku dalam bergaul
3. Peniruan buta terhadap teman sebaya
4. Kontrol ortu
5. Perasaan yang tidak jelas tentang dirinya/orang
lain
6. Kurang dapat mengendalikan diri dari rasa marah
& sikap permusuhannya
|
1. Bersikap toleran & merasa nyaman
2. Luwes dalam bergaul
3. Interdependensi & memiliki self esteem
4. Kontrol diri sendiri
5. Perasaan mau menerima dirinya & orang lain
6. Mampu menyatakan emosinya secara konstruktif
& kreatif
|
|
Kematangan kognitif
|
|
|
1. Menyenangi prinsip-prinsip umum & jawaban
yang final
2. Menerima kebenaran & sumber otoritas
3. Memiliki banyak minat/perhatian
4. Bersikap subyektif dalam menafsirkan sesuatu
|
1. Membutuhkan penjelasan tentang fakta dan teori
2. Memerlukan bukti sebelum menerima
3. Memiliki sedikit minat/perhatian terhadap gender
yang berbeda dan bergaul dengannya
4. Bersikap objektif dalam menafsirkan sesuatu
|
|
Filosofi hidup
|
|
|
1. Tingkah laku dimotivasi oleh kesenangan belaka
2. Acuh tak acuh terhadap prinsip-prinsip ideologi & etika
3. Tingkah lakunya tergantung pada reinforcement (dorongan dari luar)
|
1. Tingkah laku dimotivasi oles aspirasi
2. Melibatkan diri/memiliki perhatian terhadap ideologi dan etika
3. Tingkah lakunya dibimbing oleh tanggungjawab moral
|
Ambivalensi (Sikap Mendua)
Target dari pencapaian tugas perkembangan yaitu :
· Memiliki tujuan hidup yang realitik
· Mampu mengembangkan persepsi positif terhadap
orang lain & mencoba berintegrasi dengan keluarga sendiri secara mandiri
· Mengembangkan kemampuan untuk mengemukakan &
membangun hubungan dengan beberapa orang dewasa muda dalam masyarakat
· Ikut berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan
· Berani bepergian sendiri
· Meminta nasihat ortu/orang dewasa hanya pada saat
mengalami masalah yang rumit
· Mampu menghadapi kegagalan dengan sikap rasional
dengan berupaya mengatasinya secara lebih baik tanpa menyebabkan
depresi/regresi
Tugas-tugas Perkembangan Karir Remaja
|
Aspek
|
Profil Perilaku
|
|
a. Pengetahuan
|
1. Mengetahui program/tujuan sekolah
2. Mengetahui persyaratan/tuntutan pekerjaan yang
diminati
3. Mengetahui gaji dari pekerjaan yang diminati
4. Mengetahui tingkat kepuasan para pekerja dalam
bidang pekerjaan yang diminati
5. Mengetahui proses kenaikkan pangkat dalam
pekerjaan yang diminati
6. Mengetahui tugas-tugas pokok yang harus
dikerjakan
7. Mengetahui keterampilan/keahlian yang
dituntut/diperlukan
8. Mengetahui mata pelajaran pokok dalam program
studynya
9. Mengetahui karakteristik pribadinya secara
akurat
10. Mengetahui
tentang cara-cara memperoleh pekerjaan yang diminati
|
|
b. Mencari Informasi
|
1. Membaca buku/bahan-bahan bacaan lainnya yang
berkaitan dengan informasi pekerjaan
2. Mendiskusikan pilihan-pilihan karir baik dengan
ortu, guru dll
3. Berdiskusi dengan orang-orang yang berpengalaman
dalam pekerjaan yang diminatinya
4. Mengikuti kursus yang mendukung pekerjaan yang
diminatinya
|
|
c. Sikap
|
1. Meyakini bahwa dia harus mengambil keputusan
sendiri meskipun masih memerlukan nasihat orang lain
2. Mempercayai akan pentingnya pendekatan yang
sistematis dalam merencanakan & memecahkan masalah
3. Bertanggungjawab untuk memperoleh informasi
4. Meyakini bahwa memecahkan masalah sekolah &
pekerjaan merupakan tanggungjawab sendiri
|
|
d. Perencanaan & pengambilan keputusan
|
1. Mampu memilih salah satu alternatif pekerjaan
dari berbagai pekerjaan yang beragam
2. Mampu mempertimbangkan berapa lama menyelesaikan
sekolah
3. Dapat merencanakan apa yang harus dilakukan
setelah tamat sekolah
4. Dapat memilih program study yang sesuai dengan
minat/kemampuannya
5. Dapat mengambil keputusan ditempat mana akan
bekerja
|
|
e. Keterampilan karir
|
1. Dapat menggunakan sumber-sumber informasi
tentang karir
2. Dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan
3. Dapat meningkatkan perolehan keterampilan
akademik/nonakademik
4. Dapat menggunakan bahan untuk meningkatkan
keterampilan
5. Dapat mengelola waktu secara efektif
6. Dapat mengomentari ke-shahihan data tentang
dirinya
7. Dapat melakukan kebiasaan bekerja yang efektif
seperti bekerjasama dengan orang lain.
|
Mengembangkan keterampilan intelektual & konsep-konsep yang diperlukan
bagi warga negara
Tugas perkembangan ini bertujuan :
1. Mengembangkan
konsep-konsep hukum, pemerintahan, ekonomi, politik, geografi, hakikat manusia
dll
2. Mengembangkan
keterampilan berbahasa & kemampuan nalar (berpikir) yang penting bagi upaya
memecahkan masalah-masalah secara efektif
Dasar biologis, sistem otak & syaraf telah mencapai ukuran orang dewasa
sekitar usia 14 tahun pertumbuhan otak itu akan lebih matang setelah usia
tersebut.
Dasar psikologis, sebagai hasil dari perpaduan unsur-unsur pertumbuhan
biologis & keragaman pengalaman dengan lingkungan remaja dapat
mengembangkan kemampuan mentalnya. Keragaman individual dalam perkembangan
mentalnya menyebabkan keragaman dalam : keterampilan berbahasa, memperoleh
konsep-konsep & interes/minat & motivasi.
Tingkat pencapaian tugas perkembangan :
Indikatornya memiliki reputasi sifat-sifat moral yang baik : jujur, setia,
bertanggungjawab, bersikap altruis, mampu mengendalikan diri, mau menerima
& melaksanakan tugas/kewajiban, mau berkerjasama, menaruh perhatian
terhadap masalah-masalah etika dan agama serta mendiskusikannya secara serius,
dapat membedakan yang benar dan salah, dapat menganalisis perilaku orang lain
secara rasional, memperhitungkan perasaan/pendapat orang lain dalam mengambil
keputusan untuk melakukan suatu tindakan.
Nilai-nilai akidah, ibadah & akhlakul karimah
(keyakinan & pendalaman)
|
Nilai-nilai agama
|
Profil sikap & perilaku remaja
|
|
Akidah (keyakinan)
|
1.
Meyakini Allah sebagai pencipta
2.
Meyakini bahwa agama sebagai
pedoman hidup
3.
Meyakini bahwa Allah maha melihat
terhadap semua perbuatan (gerak gerik) manusia
4.
Meyakini hari kiamat sebagai hari
pembalasan amal manusia di dunia
5.
Meyakini bahwa Allah maha penyayang
& pengampun
|
|
Ibadah & akhlakul
karimah
|
1.
Melaksanakan ibadah ritual (mahdoh)
seperti sholat, saum & berdoa
2.
Membaca al-qur’an dan mendalami
isinya
3.
Mengendalikan diri dari sikap &
perbuatan yang diharamkan Allah
4.
Bersikap hormat kepada ortu &
orang lain
5.
Menjalin silaturahmi dengan
saudara/orang lain
6.
Bersyukur pada saat mendapatkan
nikmat
7.
Bersabar pada saat mendapatkan
musibah
8.
Memelihara kebersihan diri &
lingkungan
9.
Memiliki etos belajar yang tinggi
|
ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN
Aspek-aspek perkembangan ini meliputi, fisik, intelegensi, emosi, bahasa,
sosial, kepribadian, moral & kesadaran beragama.
Perkembangan Fisik
Fisik/ tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks &
mengagumkan, semua organ ini terbentuk pada periode pranatal (dalam kandungan).
Kuhlen & Thompson mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi 4
aspek:
1.sistem syaraf yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan & emosi
2. otot-otot yang mempengaruhi perkembangan kekuatan & kemampuan
motorik
3. kelenjar endoktrin yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku
baru seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam
suatu kegiatan
4. struktur fisik/tubuh yang meliputi tinggi, berat & proporsi
Perkembangan Intelegensi
Binet (Sumadi, 1984) sifat dari hakikat intelegensi itu ada 3 macam :
a. Kecerdasan
untuk menetapkan & mempertahankan (memperjuangkan) tujuan tertentu, semakin
cerdas seseorang akan semakin cakaplah dia membuat tujuan sendiri, memiliki
inisiatif sendiri, tak menunggu perintah saja
b. Kemampuan
untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan tersebut
c. Kemampuan untuk melakukan otokritik, kemampuan untuk belajar dari kesalahan
yang telah dibuatnya
Aspek-aspek Intelegensi Menurut Gardner
|
Intelegensi
|
Kemampuan Diri
|
|
Logical mathematical
|
Kepekaan &
kemampuan untuk mengamati pola-pola logis & numerik/bilangan serta
kemampuan untuk berpikir rasional/logis
|
|
Linguistic
|
Kepekaan terhadap
suara, ritme, maka kata-kata & keberagaman fungsi-fungsi bahasa
|
|
Musical
|
Kemampuan untuk
menghasilkan & mengapresiasikan ritme nada (warna nada) &
bentuk-bentuk ekspresi musik
|
|
Spatial
|
Kemampuan
mempersepsikan dunia ruang-visual secara akurat dan melakukan transformasi
persepsi tersebut
|
|
Bodily kinesthetic
|
Kemampuan untuk
mengontrol gerakan tubuh dan menangani objek-objek secara terampil
|
|
Interpersonal
|
Kemampuan untuk
mengamati & merespon suasana hati, temperamen & motivasi orang lain
|
|
Intrapersonal
|
Kemampuan untuk
memahami perasaan, kekuatan & kelemahan serta intelegensi sendiri
|
Kehidupan yang semakin kompleks ini memberikan dampak yang sangat buruk
terhadap konstelasi kehidupan emosional individu, generasi sekarang lebih
banyak mengalami kesulitan emosional dari pada generasi sebelumnya. Mereka
lebih kesepian dan pemurung, lebih beringasan & kurang menghargai sopan
santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif & agresif.
Unsur-unsur kecerdasan Emosional
|
Aspek
|
Karakteristik Perilaku
|
|
Kesadaran diri
|
·
Mengenal dan merasakan emosi
sendiri
·
Memahami penyebab perasaan yang
timbul
·
Mengenal pengaruh perasaan terhadap
tindakan
|
|
Mengelola emosi
|
·
Bersikap toleran terhadap frustasi
dan mampu mengelola amarah secara lebih baik
·
Lebih mampu mengungkapkan amarah
dengan tepat tanpa berkelahi
·
Dapat mengendalikan perilaku
agresif yang merusak diri sendiri dan orang lain
·
Memiliki perasaan yang positif
tentang diri sendiri, sekolah dan keluarga
·
Memiliki kemampuan untuk mengatasi
ketegangan jiwa (stres)
·
Dapat mengurangi perasaan kesepian
dan cemas dalam pergaulan
|
|
Memanfaatkan emosi secara produktif
|
·
Memiliki rasa tanggungjawab
·
Mampu memusatkan perhatian pada
tugas yang dikerjakan
·
Mampu mengendalikan diri dan tidak
bersifat impulsif
|
|
Empati
|
·
Mampu menerima sudut pandang orang
lain
·
Memiliki sikap empati/kepekaan
terhadap perasaan orang lain
·
Mampu mendengar orang lain
|
|
Membina hubungan
|
·
Memiliki pemahaman & kemampuan
untuk menganalisis hubungan dengan orang lain
·
Dapat menyelesaikan konflik dengan
orang lain
·
Memiliki kemampuan berkomunikasi
dengan orang lain
·
Memiliki sikap tenggang rasa dan
perhatian terhadap orang lain
·
Memperhatikan kepentingan sosial
(senang menolong orang lain) dan dapat hidup selaras dengan kelompok
·
Bersikap senang berbagi rasa &
bekerjasama
·
Bersikap luwes dalam bergaul dengan
orang lain
|
Pengaruh emosi terhadap perilaku dan perubahan fisik individu
Beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu
diantaranya yaitu :
· Memperkuat semangat apabila orang merasa
senang/puas atas hasil yang telah dicapai
· Melemahkan semangat bila timbul rasa kecewa karena
kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini timbulnya rasa putus asa
(frustasi)
· Menghambat/mengganggu konsentrasi belajar apabila
sedang mengalami ketegangag emosi & bisa juga menimbulkan sikap gugup dan
gagap dalam berbicara
· Terganggu penyesuaian sosial apabila terjadi rasa
cemburu dan iri hati
· Suasana emosional yang diterima dan dialami
individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari, baik
terhadap sikapnya dikemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri atau terhadap
orang lain.
Jenis-jenis emosi dan dampaknya pada perubahan
fisik
|
Jenis Emosi
|
Perubahan Fisik
|
|
Terpesona
|
Reaksi elektris pada
kulit
|
|
Marah
|
Peredaran darah
bertambah cepat
|
|
Terkejut
|
Denyut jantung
bertambah cepat
|
|
Kecewa
|
Bernapas panjang
|
|
Sakit/marah
|
Pupil mata membesar
|
|
Takut/tegang
|
Air liur mengering
|
|
Takut
|
Berdiri bulu roma
|
|
Tegang
|
Terganggu pencernaan,
otot-otot menegang/bergetar (tremor)
|
Karakteristik emosi anak dan dewasa
|
Emosi anak
|
Emosi orang dewasa
|
|
Berlangsung singkat dan
berakhir tiba-tiba
|
Berlangsung lebih lama
dan berakhir dengan lambat
|
|
Terlihat lebih
hebat/kuat
|
Tidak terlihat
hebat/kuat
|
|
Bersifat
sementara/dangkal
|
Lebih mendalam dan lama
|
|
Lebih sering terjadi
|
Jarang terjadi
|
|
Dapat diketahui dengan
jelas dari tingkah lakunya
|
Sulit diketahui karena
lebih pandai menyembunyikannya
|
Pengelompokkan Emosi
Emosi dapat dikelompokkan kedalam 2 bagian : emosi sensoris & emosi
kejiwaan (psikis)
(a). Emosi sensoris : yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap
tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, lapar
(b). Emosi psikis : yang memiliki alasan-alasan kejiwaan yang termasuk
emosi ini :
1. perasaan intelektual, yang memiliki sangkut paut dengan ruang lingkup
kebenaran, perasan ini diwujudkan dalam bentuk: rasa yakin dn tidak yakin
terhadap suatu hasil karya ilmiah, rasa gembira karena mendapatkan suatu
kebenaran, rasa puas karena dapat menyelesaikan persoalan-persoalan ilmiah yang
harus dipecahkan
2. perasaan sosial : perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain,
baik bersifat perorangan maupun kelompok, wujud perasaan ini : rasa
solidaritas, persaudaraan (ukhuwah), simpati, kasih sayang dll
3. perasaan susila, perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan
buruk/ etiak (moral) seperti : rasa tanggungjawab, rasa bersalah bila melanggar
norma, rasa tenteram dalam menaati aturan
4. perasaan keindahan (estetis) ; perasaan yang berkaitan erat dengan
keindahan dari sesuatu baik bersifat kebendaan maupun kerohanian
5. perasaan ketuhanan, salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan,
dianugrahi fitrah (kemampuan/perasaan) untuk mengenal Tuhannya. Dengan kata
lain, manusia dikarunia insting religius (naluri beragama).
PERKEMBANGAN BAHASA
Makna Bahasa
Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain, tercakup
semua cara untuk berkomunikasi dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam
bentuk lambang/simbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian seperti dengan
menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan & mimik muka
Tugas-tugas
perkembangan bahasa
Dalam berbahasa, anak
dituntut untuk menuntaskan / menguasai 4 tugas pokok yang saling berkaitan :
(1). Pemahaman, kemampuan
memahami makna ucapan orang lain, bayi memahami bahasa orang lain bukan
memahami kata-kata yang diucapkannya tapi dengan memahami
kegiatan/gerakan/gesturenya (bahasa tubuhnya)
(2). Pengembangan perbendaharaan kata, perbendaharaan kata-kata anak
berkembang dimulai secara lambat pada usia 2 tahun pertama, kemudian mengalami
tempo yang cepat pada usia pra sekolah dan terus meningkat setelah anak masuk
sekolah
(3). Penyusunan kata-kata menjadi kalimat, kemampuan menyusun kata-kata
menjadi kalimat pada umumnya berkembang sebelum usia 2 tahun. Bentuk kalimat
pertama : kalimat tunggal dengan disertai; “gesture’ untuk melengkapi cara
bepikirnya seperti : anak menyebut “bola” sambil menunjuk bola itu dengan
jarinya
(4). Ucapan, kemampuan mengucapkan kata-kata merupakan hasil belajar
melalui imitasi(peniruan) terhadap suara-suara yang didengar anak dari orang
lain terutama ortunya. Pada bayi, antara 11-18 bulan pada umumnya mereka belum
dapat berbicara/mengucapkan kata-kata secara jelas, sehingga sering tidak
dimengerti maksudnya kejelasan ucapan itu baru tercapai pada usia sekitar 3
tahun. Hasil study tentang suara dan kombinasi suara menunjukkan bahwa anak
mengalami kemudahan dan kesulitan dalam huruf-huruf tertentu. Huruf yang mudah
diucapkan yaitu huruf hidup (vokal) : i,a,e,o,u dan huruf mati (konsonan): t,
p, b, m dan n sedangkan yang sulit diucapkan adalah huruf mati tunggal : z, w,
s dan g dan huruf mati rangkap (diftong): st, str, sk dan dr
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan bahasa
Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh faktor-faktor kesehatan, inteligensi,
status sosial ekonomi, gender dan hubungan keluarga :
(1). Faktor Kesehatan : kesehatan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi
perkembangan bahasa anak, terutama pada usia awal kehidupannya. Apabila pada
usia 2 tahun pertama anak mengalami sakit terus menerus maka anak tersebut
cenderung akan mengalami kelambatan/kesulitan dalam perkembangan bahasanya, oleh
karena itu untuk memelihara perkembangan bahasa anak secara normal, ortu perlu
memperhatikan kondisi kesehatan anak. Upaya yang ditempuh dengan cara
memberikan Asi, makanan yang bergizi, memelihara kebersihan tubuh anak/secara
reguler memeriksakan anak ke dokter/ke puskesmas.
(2). Intelegensi, perkembangan bahasa anak dapat dilihat dari tingkat
intelegensinya. Anak yang perkembangan bahasanya cepat pada umumnya memiliki
intelegensi normal/di atas normal. Namun begitu, tidak semua anak yang
mengalami kelambatan perkembangan-perkembangan bahasanya pada usia awal
dikategorikan sebagai anak yang bodoh (lindgren dalam Hurlock, 1956). Hurlock
mengemukakan hasil studi mengenai anak yang mengalami kelambatan mental yaitu
bahwa sepertiga diantara mereka yang dapat berbicara secara normal dan anak
yang berada pada tingkat intelektual yang paling rendah, mereka sangat miskin
dalam berbahasanya.
(3). Status sosial ekonomi keluarga. Beberapa study tentang hubungan antara
perkembangan bahasa dengan status sosial ekonomi keluarga menunjukkan bahwa
anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami kelambatan dalam perkembangan
bahasanya dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga yang lebih baik.
Kondisi ini terjadi mungkin disebabkan oleh perbedaan kecerdasan/kesempatan
belajar (keluarga miskin diduga kurang memperhatikan perkembangan bahasa
anaknya)
(4). Gender, pada tahun pertama usia anak, tidak ada perbedaan dalam
vokalisasi antara pria dan wanita, namun mulai usia 2 tahun, anak wanita
menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari anak pria
(5). Hubungan keluarga, hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman
berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga terutama dengan ortu
yang mengajar, melatih dan memberikan contoh berbahasa kepada anak. Hubungan
yang sehat antara ortu dengan anak (penuh perhatian dan kasih sayang dari
ortunya) memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak
sehat mengakibatkan anak akan mengalami kesulitan/kelambatan dalam perkembangan
bahasanya. Hubungan yang tidak sehat itu bisa berupa sikap ortu yang
keras/kasar, kurang kasih sayang/kurang perhatian untuk memberikan latihan dan
contoh dalam berbahasa yang baik kepada anak, maka perkembangan bahasa anak
cenderung akan mengalami stagnasi/kelainan seperti gagap dalam berbicara, tidak
jelas dalam mengungkapkan kata-kata, merasa takut untuk mengungkapkan pendapat
dan berkata yang kasar/tidak sopan.
Adapun upaya yang bisa dilakukan ortu untuk sosialisasi pemkembangan sosial
yang dicapai anak yaitu:
Sosialisasi dan perkembangan anak
|
Kegiatan ortu
|
Pencapaian perkembangan perilaku anak
|
|
1. Memberikan makanan dan memelihara kesehatan
fisik anak
2. Melatih dan menyalurkan kebutuhan fisiologis,
toilet training, menyapih dan memberikan makanan padat
3. Mengajar dan melatih keterampilan berbahasa,
persepsi, fisik, merawat diri dan keamanan diri
4. Mengenalkan lingkungan kepada anak, keluarga,
sanak keluarga, tetangga dan masyarakat sekitar
5. Mengajarkan tentang budaya, nilai-nilai agama
dan mendorong anak untuk menerimanya sebagai bagian dirinya
6. Mengembangkan keterampilan interpersonal motif,
perasaan dan perilaku dalam berhubungan dengan orang lain
7. Membimbing, mengoreksi dan membantu anak untuk
merumuskan tujuan dan merencanakan aktivitasnya
|
1. Mengembangkan sikap percaya kepada orang lain
(development of trust)
2. Mampu mengendalikan dorongan biologis dan
belajar untuk menyalurkannya pada tempat yang diterima masyarakat
3. Belajar mengenal objek-objek, belajar bahasa,
berjalan, mengatasi hambatan, berpakaian dan makan
4. Mengembangkan pemahaman tentang tingkah laku
sosial belajar menyesuaikan perilaku dengan tuntutan lingkungan
5. Mengembangkan pemahaman tentang baik-buruk,
merumuskan tujuan dan kriteria pilihan dan berperilaku yang baik
6. Belajar memahami perspektif orang lain dan
merespon harapan/pendapat mereka secara selektif
7. Memiliki pemahaman untuk mengatur diri dan
memahami kriteria untuk menilai penampilan perilaku sendiri
|
Pada usia anak, ada beberapa bentuk tingkah laku sosial anak yaitu:
1. Pembangkangan (negativisme) : suatu bentuk tingkah laku melawan, tingkah laku
ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin/tuntutan ortu/lingkungan
yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku ini mulai muncul pada
kira-kira 18 bulan dan mencapai puncaknya pada usia 3 tahun. Berkembangnya
tingkah laku negativisme pada usia ini dipandang sebagai hal yang wajar.
Setelah usia 4 tahun biasanya tingkah ini mulai menurun. Antara usia 4-6 tahun
sikap membangkan/melawan secara verbal (menggunakan kata-kata) sikap ortu
terhadap tingkah laku melawan pada usia ini, seyogyanya tidak memandangnya
sebagai pertanda bahwa anak itu nakal, keras kepala/sebutan yang negatif. Dalam
hal ini, sebaiknya ortu mau memahami tentang proses perkembangan anak yaitu
bahwa secara naluriah anak itu memiliki dorongan untuk berkembang dari posisi
(dependent) ke posisi independent. Tingkah laku melawan merupakan salah satu
bentuk dari proses perkembangan tersebut.
2. Agresi (agression): perilaku menyerang balik secara fisik maupun
kata-kata, agresi ini = salah satu bentuk reaksi terhadap frustasi (rasa kecewa
karena tidak terpenuhi kebutuhan/keinginannya) yang dialaminya. Seperti memukul,
mencubit, menendang, menggigit, marah-marah dan mencaci maki. Ortu yang
menghukum anak yang agresif menyebabkan meningkatnya agresivitas anak. Maka
sebaiknya ortu berusaha untuk mereduksi, mengurangi agresivitas anak dengan
cara mengalihkan perhatian/keinginan anak, memberikan mainan/sesuatu yang
diinginkannya (sepanjang tidak membahayakan keselamatannya)/upaya lain yang
bisa meredam agresivitas anak tersebut.
3. Berselisih/bertangkar (quarreling) terjadi bila seorang anak merasa
tersinggung/terganggu oleh sikap dan perilaku anak lain seperti: diganggu pada
saat mengerjakan sesuatu/direbut barang/mainannya
4. Menggoda
(teasing): sebagai bentuk lain dari tingkah laku agresif, menggod merupakan
serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata
ejekan/cemoohan) sehingga menimbulkan reaksi marah pada orang yang diserangnya.
5. Persaingan (revatly) : keinginan untuk melebihi orang lain, dan selalu
didorong (distimulusi) oleh orang lain. Sikap persaingan ini mulai terlihat
pada usia 4 tahun yaitu persaingan untuk prestise dan pada usia 6 tahun,
semangat bersaing ini berkembang dengan lebih baik
6. Kerjasama (cooperation): sikap mau bekerjasama dengan kelompok. Anak yang
berusia 2/3 tahun belum berkembang sikap bekerjasamanya, mereka masih kuat
sikal ‘self-centered’-nya. Mulai usia 3 tahun akhir/ 4 tahun, anak sudah mulai
menampakkan sikap kerjasamanya dengan anak lain. Pada usia 6/ 7 tahun, sikap
kerjasama ini sudah berkembang dengan lebih baik lagi, pada usia ini anak mau bekerja
kelompok dengan temannya
7. Tingkah laku berkuasa (ascendant behavior), sejenis tingkah laku untuk untuk menguasai situasi
sosial, mendominasi/bersikap “bossiness”. Wujud dari tingkah laku ini, seperti
: meminta, menyuruh & mengancam/memaksa orang lain untuk memenuhi kebutuhan
dirinya.
8. Mementingkan diri sendiri (selfishness) : sikap egosentris dalam memenuhi
interest/keinginannya. Anak ingin selalu dipenuhi keinginannya & apabila
ditolak, maka dia protes dengan menangis, menjerit/ marah-marah.
9. Simpati (sympaty): sikap emosional yang mendorong individu untuk
menaruh perhatian terhadap orang lain, mau mendekati/bekerja sama dengan
seiring bertambahnya usia anak mulai dapat mengurangi sikap ‘selfish’nya dan
dia mulai mengembangkan sikap sosialnya dalam hal ini rasa simpati terhadap
orang lain.
Lingkungan sosial yang kurang kondusif seperti perlakuan ortu yang kasar,
sering memarahi, acuh tak acuh, tidak memberikan bimbingan, teladan,
pengajaran/pembiasaan terhadap anak dalam menerapkan norma-norma baik
agama/tata krama/budi pekerti, cenderung menampilkan perilaku seperti dibawah
ini :
1. Bersifat
minder
2. Senang
mendominasi orang lain
3. Bersifat
egois/selfish
4. Senang
mengisolasi diri /menyendiri
5. Kurang
memiliki perasaan tenggang rasa
6. Kurang
mempedulikan norma dalam berperilaku
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian : baik hereditas maupun
lingkungan seperti fisik, sosial, kebudayaan, spiritual.
Individu yang intelegensinya tinggi/normal, biasanya mampu menyesuaikan
diri dengan lingkungannya secara wajar sedangkan yang rendah biasanya sering
mengalami hambatan/kendala dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar